Aku Takut...

6 bulan sudah aku menjalani profesi sebagai mahasiswa di Institut ini membuat aku semakin khawatir akan masa depanku. Menjadi seorang mahasiswa, bukannya membuatku semakin percaya diri dengan karir, impian, dan mimpi-mimpiku. Tapi malah sebaliknya, rasa insecure ini semakin menghantui pikiranku hari demi hari.

Ternyata benar kata orang, sematan kata "maha" sebelum "siswa" memberikan dampak yang luar biasa, bukan hanya pada beratnya pendidikan, tapi juga pada beban pikiran. Bagaimana kalau aku nanti lulus trus menganggur? Bagaimana kalau aku tidak bisa cumlaude? Bagaimana kalau nanti bisnisku tidak semulus kisah-kisah di buku yang selama ini ku baca? Bagaimana kalau aku gagal?

Di sini, di institut ini aku bertemu orang-orang yang terlihat bahagia dengan kehidupannya. Ada yang menjuarai lomba sampai ke asia, ada yang sudah menjadi CEO startup dan bisa memberi salary 5jt/bulan, ada yang sudah bisa mandiri secara finansial, ada yang mendapat IPK 4.0, ada yang sedang berbahagia dengan kehidupan percintaannya, dan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya yang belum ku rasakan. Intinya, seolah-olah status bahagia hanya jauh dariku.

Rasanya bahagia seolah-olah memang tidak ditakdirkan untukku. Aku takut tidak menjadi orang sukses. Aku takut menjadi anak yang gagal. Takut ga ada yang bisa dibanggain dariku nanti. Takut ini, takut itu. Hingga aku terlalu sibuk meraih cita, terlalu sibuk berlari menuju garis finish dan melupakan pemandangan indah di sekitar, lupa akan memaknai proses.

Pernah gak kalian berpikir, kenapa sih? kenapa sukses itu harus selalu dilandaskan dengan materi? Kenapa untuk sukses harus menjadi Dokter? Pengusaha? Arsitek? Teknisi? kenapa kesuksesan seolah-olah memiliki standar? Kalau kaya harus berpenghasilan puluhan juta perbulan, kalau mau bahagia harus punya uang, kalau mau hidupnya terjamin harus jadi dokter, Kenapa dan kenapa lainnya..

Di paragraf ini aku ingin kamu berhenti sejenak, tarik napas dalam-dalam. I want to bring you to another place. Sekarang ayo kita keluar rumah, bawa pesan ini bersamamu. Mari nikmati sejuknya udara bandung, lihat keramaian jalan dago, atau sesederhana buka jendela kamarmu. Lihatlah jalanan, pepohonan, dan birunya langit.

Perhatikan setiap lekuk awan yang terbentuk di langit, seperti begitu acak, berantakan, tidak simetris, dan tidak beraturan. Ia tidak punya standar untuk menjadi indah. awan akan tetap menjadi awan, indah dengan bentuk yang dia buat sendiri. Dia buat standar indahnya sendiri, tanpa harus takut akan standar indahnya orang lain. Lihat, awan tetap bahagia kan?

Terus, kenapa kita kalah dengan awan? Kenapa kita masih harus mengkhawatirkan jadi apa nanti kita yang berdasarkan standar orang? toh, masa depan dibuat rahasia bukan tanpa tujuan. Agar kita bisa bersiap untuk kemungkinan yang terburuk dan berbahagia dengan kemungkinan yang terindah.

Lihat Bill Gates, dia mempelajari bahasa pemrograman saat teknologi belum semasif sekarang. Lalu dia mendirikan Microsoft pada tahun 1975, kuulangi 1975. Komputer belum menjadi prospek kerja yang menjanjikan. Dia buat standar suksesnya sendiri

J.K. Rowling, penulis buku Harry Potter, salah satu orang terkaya di UK. Dia ga perlu jadi pengusaha, dokter, teknisi untuk jadi kaya. Lupakan standar orang. Bahkan sampe sekarang menjadi penulispun bukan prospek kerja yang menjanjikan.

Aku percaya pada salah satu kalimat. "Setiap yang bernyawa pasti diberi rejeki" Seolah-olah hidup kita di dunia sudah dijamin, kita tinggal berusaha kan?. Lantas, kalau Allah sudah menjamin, untuk apa lagi kita khawatir?


tulisan ini terinspirasi oleh Alvi Syahrin.

Komentar

  1. Masya Allah keren kak artikelnya... Semangat nulisnya ya kak, kedepannya tulis perjuangan kakak yg bs diterima di kampus yg sekarang sama sama pengalaman kakak selama kuliah disana dong Kak... Ditunggu ya, semangat menebar kebermanfaatan kak... Barkallah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasihhh udah mampir kesini, ditunggu lagi yaa tulisan-tulisan berikutnya. Semoga sukaa!!

      Hapus
  2. Maaf kak ada yg salah tulis itu,
    Untuk lanjutan setelah kata sekarang tu aku mau minta kakak nulis artikel atau cerita kakak selama menjalani bangku perkuliahan di PTN yg skrg gitu Kak.. maaf ya

    BalasHapus
  3. I agree with u, kak. Every words, haha

    BalasHapus
  4. I loved your word. And that's beautiful story about perspective of life. Keep Fighting!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you for visiting my page! wish u have a great day as well.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer