Dzaky 2020 (2)


Sudah 6 bulan lamanya, tapi aku masih ingat dengan jelas betapa bahagianya dia malam itu, betapa muramnya suara daun yang bergesek-gesek tertiup angin seakan menambah kesan pilu, dan betapa kerasnya usahaku untuk tetap tersenyum menutupi rasa yang seharusnya tak ada,,, cemburu. Sudah 6 bulan lamanya, tapi aku masih ingat betul bagaimana rasanya, seakan hal itu baru terjadi kemarin.

'Ya ini mah sama saja kaya cerita-cerita yang pernah ku lalui, mirip dengan kisah yang sudah ku tulis di blog berkali-kali, gak ada yang beda dan gak ada yang istimewa', begitu gerutuku. Aku mulai mundur pelan-pelan, mulai menyadarkan diriku bahwa, Hey elu siapa?. Tapi meski dengan berat hati, pertemuan kami malam itu tetap harus berlanjut

............

"Eh asep nya jangan diarahin kesini dong, Dzaky gak ngerokok" begitu serunya, sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk menghalau asap rokok yang bergerak perlahan menujuku, seolah-olah tampak ia peduli, seolah-olah... Jujur, aku hampir kembali jatuh hati, tapi untung saja saat itu aku masih ingat dengan jelas apa yang terjadi sejam yang lalu.

"Lo gak ngerokok jak?" tanya salah satu cowo berkaca-mata dengan setelan kemeja lengan pendek berwarna putih bergaris yang duduk persis di depanku sambil membenarkan posisi layar laptopnya sembari menghembuskan asapnya ke atas. Iya, orang yang sama, yang ku tulis di paragraf akhir pada part sebelumnya.

'Apasih lu, gausah sok akrab', ingin ku jawab begitu, tapi itu pesan yang terlalu jelas untuk menyampaikan perasaan. Aku harus bermain halus, pelan-pelan tapi berstrategi.

"Enggak, dulu gua pernah kena penyakit paru-paru pas kecil. Jadi gua melarang diri gua untuk merokok", begitu jawabku, dengan ditambahi sedikit bumbu senyuman manis agar obrolannya semakin menggugah selera.

Aku selalu pandai bermain peran, mulai dari peran anak yang menutupi luka lebam sepulang sekolah akibat dipukul teman sampai peran orang biasa yang harus memberikan senyum manisnya di tengah lautan pahitnya kehidupan. Aku selalu berhasil menguasai panggung sandiwara, dan sepertinya malam ini juga akan begitu.

.............

Aku kira ceritaku akan berakhir di malam itu, aku kira itu yang terakhir, tidak ada lagi tambahan paragraf dalam kisah kami. Akupun sudah mengubur rasa dalam-dalam, menutup pintu hati rapat-rapat, dan memendam rindu yang bahkan tidak pernah sempat untuk kusampaikan. Aku kira semuanya sudah selesai. Hingga suatu hari,,,

"Zak, lu lagi sakit? udah makan belom? gua ke tempat lu ya sekarang"

'Hah apa nih,' itu respon yang muncul di kepalaku. Sudah 3 hari sejak pesan terakhir ku dibalas olehnya, 'dia tau gua sakit dari mana?'.

"Eh enggak kok."

"Udah cepet mau apa? belom makan kan?"

Seketika bendungan yang sudah ku bangun dengan kokoh dan pondasi yang kuat hancur seakan diterjang ombak laut pasang. 'Belom makan kan?' 3 kata sederhana yang sering ku dengar dari bunda setiap aku pulang ke rumah, ternyata berhasil membuat seorang pria dengan sayatan luka di hatinya pun luluh.

kriiiingg kriinnggg...  "Zak, turun dong!! Gua udah di basement"...

Yah,,,,,  aku kembali jatuh...... 

..............

bersambung.....

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer