Satu September yang Ke-19


Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-19. Ulang tahun pertama yang aku sama sekali tidak merayakannya. Biasanya akan ada teman-teman yang menahanku sewaktu pulang sekolah, lalu tiba-tiba ada suara dari jauh "Happy birthday to you" sambil membawa kue coklat yang dibeli dengan patungan mereka menghampiriku, atau mengeluarkan sebagian uang tabunganku untuk membeli jam tangan yang sudah aku idam-idamkan, atau bahkan sekedar menyempatkan diri untuk pergi ke restoran sushi, memesan sepotong ikan salmon dengan taburan bubuk cabai dihiasi lilin di sampingnya.

Hari ini tampak berbeda, aku tidak punya rencana apa-apa, hari ini tidak berbeda dengan hari-hari biasanya. Ucapan selamat dari kawan pun mulai terasa hambar, bahkan ayahku sendiri memilih untuk tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku mengerti, mungkin ayah mau aku mulai berpikir kalau ini tahun terakhir ku sebagai anak remaja berusia belasan tahun. Tidak ada yang istimewa dari yang namanya ulang tahun. Ia sama dengan hari-hari yang lain, yang membedakan hanya nomor di identitasku yang mulai berubah.

Bukan, bukannya aku tidak bersyukur dikaruniai umur panjang untuk menikmati hidup. Aku hanya lelah untuk terus-terusan berada dalam hiruk-pikuk dunia. Aku lelah terus-terusan membahagiakan diriku untuk hal yang fana, hal yang dibuat-buat.

Rasa rindu mendadak muncul saat aku menulis bagian ini, serasa ada sesuatu yang mengganjal di balik beban-beban kehidupan. Aku kangen masa kecilku, Aku kangen merengek minta mainan di tengah keramaian mall tanpa tau rasa malu, Aku kangen dimarahi bunda karena membuat masalah di sekolah, Aku kangen membawa kotak bekal warna biruku yang dulu sering aku tinggal di kelas, Aku kangen rasa sesal yang timbul akibat lupa salim sama bunda dan ayah sebelum berangkat sekolah. Aku kangen.

Setelah paragraf di atas ku tulis, Aku mulai bingung mau membahas apa. Rasaku mulai tenggelam dalam lautan kenangan, mulai terbang bersama angan-angan masa lalu, dan berbaur dengan kejadian di masa lampau. Rasanya seperti ada yang menekan dadaku dari segala arah, sesak. Aku mulai sulit bernapas. Perlahan tapi pasti, air mataku mulai berontak seakan memaksa untuk keluar. "Tunggu sebentar, tulisan ku belum selesai" seru ku dalam hati.

Tapi, tak peduli seberapa kerasnya aku mencoba untuk berpikir. Rasa ini sudah menguasai diriku. Sepertinya pertandingan antara logika dan perasaan kali ini dimenangkan oleh perasaan. Oke, aku mengalah. Aku akan berhenti sejenak....

..............................

Setelah setengah jam berusaha untuk mengembalikkan pikiran dan rasa, karena memang, rasa itu turut andil dalam menulis. Aku sadar, bahwa kita memang hidup di dunia yang lebih banyak mengajarkan luka ketimbang tawa. Lambat laun aku mulai memahami makna sebenarnya dari 'Ulang Tahun'. Ia ada sebagai pengingat, bahwa entah cepat atau lambat, cerita hidup kita pada akhirnya akan tamat.

Komentar

  1. Halo Dzaky! Nemu blog nya dari re-talk KM hari ini, and found this post. Ke-trigger buat baca karena ulang tahun kita sama! Well, aku ngerasa juga hal yang sama kayak isi postingan ini ketika masuk usia 20an taun lalu. Bener, semakin ke sini jadi memaknai ulang tahun sebagai pengingat setidaknya mensyukuri dan selalu berbuat baik untuk sisa kehidupan yang ada. Nice post, anw. Salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaa makasih banyak udah mampir :)) wah ternyata banyak banget yang relate sama hal ini, dan im not the only one yang struggling sama masalah ini. Anyways, nice to know you too :))

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer